Sedikit berbagi cerita tentang pengalaman pribadi saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Prof. Masdar memang sosok yang humanis, sebagaimana yang selama ini sering saya dengar dari banyak orang.
Dulu, sekitar akhir tahun 2019, ketika saya tengah menyusun skripsi, salah satu narasumber yang harus saya wawancarai adalah Prof. Masdar, yang kala itu menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) periode 2018–2022.
Mengapa harus Prof. Masdar?
Kebetulan, penelitian skripsi saya mengangkat telaah kritis terhadap formula moderasi beragama yang digagas Kementerian Agama, khususnya bagaimana konsep tersebut diimplementasikan di ruang publik.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi tentu menjadi salah satu institusi pendidikan yang memiliki andil besar dalam mendiseminasikan gagasan moderasi beragama kepada masyarakat, khususnya mahasiswa. Posisi rektor pun menjadi cukup strategis sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam proses penyebarluasan dan implementasi gagasan tersebut.
Singkat cerita, pada suatu Jumat pagi, saya bersama seorang teman memutuskan datang langsung ke gedung rektorat. Tanpa membuat janji terlebih dahulu, kami dengan penuh percaya diri berjalan menuju ruang kerja rektor.
Sesampainya di depan ruangan, kami disambut petugas keamanan.
"Ada keperluan apa dengan Pak Rektor? Sudah membuat janji sebelumnya?"
Karena saat itu saya masih teramat lugu dan belum begitu memahami prosedur administratif untuk menemui seorang rektor, tentu saja kami tidak diperkenankan masuk.
Namun, karena sudah telanjur datang dan enggan pulang dengan tangan hampa, kami memutuskan duduk di sofa ruang tunggu, tepat di depan ruangan rektor. Sembari memikirkan cara, dalam hati kami berharap semoga ada kesempatan untuk bertemu beliau.
Sekitar 15 menit kemudian, pintu ruangan terbuka.
Prof. Masdar keluar dari ruang kerjanya. Beliau sempat menoleh ke arah kami, lalu menghampiri dan bertanya dengan ramah.
"Ada keperluan dengan saya, Mas? Dari mana ini?"
Kami pun menjelaskan maksud kedatangan kami, yakni hendak meminta kesediaan beliau untuk diwawancarai sebagai salah satu narasumber penelitian skripsi. Kami juga menyampaikan bahwa kami merupakan mahasiswa bimbingan Dr. Zamzami, yang kala itu masih bergelar doktor dan kini telah menyandang gelar profesor.
Nah, di sinilah saya mulai menyaksikan sendiri bagaimana sikap rendah hati Prof. Masdar.
Tanpa banyak bertanya, tanpa membuat kami merasa sungkan, beliau langsung mempersilakan kami masuk ke ruang kerjanya. Urusan prosedur administratif yang sebelumnya terasa begitu rumit seketika bukan lagi menjadi penghalang.
Kami dipersilakan duduk dan langsung memulai wawancara.
Hampir satu jam kami berbincang dengan beliau. Dan selama itulah saya merasakan sisi humanis yang barangkali tidak selalu bisa ditangkap hanya dari gelar, jabatan, atau reputasi akademik seseorang.
Meskipun menjabat sebagai rektor, Prof. Masdar sama sekali tidak memperlihatkan jarak maupun sekat hierarkis dalam perbincangan kami. Beliau justru memperlakukan kami layaknya seorang bapak yang sedang berbincang dengan anak-anaknya.
Hangat, akrab, penuh perhatian, dan sesekali diselingi canda.
Tidak ada kesan menjaga jarak, apalagi memperlihatkan superioritas intelektual. Kami justru merasa sangat dihargai (diajeni), diterima, dan diperlakukan dengan begitu baik.
Kesan itulah yang masih melekat kuat dalam ingatan saya hingga hari ini.
Kala itu, terus terang, saya tidak berpikir macam-macam. Yang ada dalam benak saya hanyalah rasa senang karena akhirnya berhasil mendapatkan narasumber untuk menyelesaikan skripsi.
Namun, ketika pengalaman itu saya renungkan kembali, ada sesuatu yang rasanya patut diapresiasi.
Bayangkan, seorang rektor, intelektual Muslim, pemikir Islam kontemporer, sekaligus akademisi yang sangat produktif, dengan segala kesibukan dan tanggung jawabnya, masih bersedia meluangkan waktu hampir satu jam untuk melayani wawancara dua mahasiswa S1 yang datang tanpa membuat janji.
Tidak hanya bersedia diwawancarai, beliau juga melayani dengan sabar, hangat, dan ngemong.
Bagi saya, hal semacam ini bukan perkara kecil.
Sebab, ketinggian ilmu dan jabatan tidak selalu berjalan beriringan dengan kerendahan hati. Namun, melalui pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa kebesaran seorang intelektual bukan hanya terletak pada keluasan pengetahuan atau tingginya kedudukan, melainkan juga pada caranya memperlakukan orang lain, termasuk mereka yang secara akademik masih berada jauh di bawahnya.
Dan dari pengalaman itulah saya semakin memahami bahwa predikat humanis yang melekat pada sosok Prof. Masdar bukan semata-mata pujian yang beredar dari mulut ke mulut.
Setidaknya, saya pernah menyaksikan dan merasakannya sendiri.
Barangkali, begitulah salah satu tanda kebesaran seorang intelektual: semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin lapang pula hatinya untuk memanusiakan orang lain.
Prof. Masdar, rektor humanis ashli. Pakai shod!
Selamat dan sukses atas terpilihnya Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D. sebagai Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya periode 2026–2030.
Semoga amanah yang kembali dipercayakan kepada beliau menjadi jalan untuk membawa UINSA semakin maju, unggul, dan berkontribusi bagi pengembangan keilmuan serta peradaban Islam.
Dan semoga sikap humanis, kesederhanaan, serta kerendahan hati yang pernah saya saksikan secara langsung tetap menjadi bagian dari kepemimpinan beliau.
Sebab, pada akhirnya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena kebijakan dan pencapaiannya, tetapi juga karena bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.

Komentar
Posting Komentar